JILBAB SEBAGAI SIMBOL FEMINISME DALAM CERPEN"SESUATU YANG ASING
KARYA FATLURRAHMAN
Oleh : Abd. Muni Rozin
Anisandia ,sang tokoh utama kedua dalam cerpen "sesuatu yang nasing", karya fatlurahman digambarkan sebagai sosok wanita yang mengungkapkan niali-nilai feminis melalui jilbab. Penggunaan kata symbol disini dimaksuk karena pada dasarnya(jika dliat dri makna leksikal atau denotatif), kata 'jilbab' tidakm menyuratkan nilai-nilai feminis secara gamblang namun ia tersirat dalam unsure-unsur pembangun cerpen tersebut.
Penggunaan kata "simbol ,saya adopsi terutama jika dilihat dari tokoh "aku"sebgai ytokolh utama kesatu , pada kenyatraannya ia tidk maengenal anisandia sama sekali. Sosok anisandia hadi sebagai imajinasi yang mampu menggerqakkan hati tokoh "aku" u ntuk berubah memahami lebih jauh tent amng arti sebuah kesabaran dari sifat-sifat femenim seorabng wanita yang secara fisikologis memiliki sifat halus dan lembut, walaupun pada hakekatnya tidak sedikit tokoh waniuta ynag dihadirkan dalam cerpen tersebut namun hanya satu wanita yang dia anggap sebagai"the real woman" wani6ta sejati atau wanita seutuhnya yaitu wanita muslimah yang tidak pernah melepaskan dirinyha dari jiulbab yang tak lain adalah anisandia. Dari sini sangat jelas bahwa pengarang hendak meangapai gagasannya tenjtang wanita. Hal ini bias dilihat dari kutipan berikut.
"setelah aku piker untuyk merubah sikap sdna pola pikir yang selama ini menjadi bangkai busuk dimata orang-orang perlu kiranya ada membimbing dan mrendampingiku . aku tak mau yang membimbing dan mendampingiku dari kaum laki-laki karena aku ingin belajar sikap kelembutan dari peremlpuan begitu juga dari sifat lembutnya , tapi siapa kira-kira perempuan itu?
Pikirku kacau
Anisandia , aku pertamakali menemukan nama itu dikoetepian telingaku lewat paraduan kata-kata yang dide3ngungkan para akademisi , ia merupakan perempuan muslilmah yang membuka ruang imajinaqsi bagiku . banyak orang-orang mengatakan demikian, terutama kharun teman sebangku kuliahku , bahwa perempuan yang bernama anisandia tak lpepas menghiasi rambutnya dengan jilbab, dari warna putih, kuning, hitam, dan ketika ia memakainya kelihatan cocok semua.
"apakah ini yang dinamakan perempuan seutuhnya?, kau terlalu sempurna bagiku". Suara hati kecilku liar, padahal padahl aku belum tau seprti apa pearempuan itu. Aku tidak tahu, pujian para plagiat r omantisme terhadap perempuan itu membuat aku plash back pada saat masih menjadi seorang santriwan ketika melihat santri wati
Studi tentang wanita dalam ranah social dan akademik dikenal denga istilah feminis, secara leksikal dalam KBBI, Feminis berarti, "gerakan wanita yang menuntut persmaan hak antara wanita dan pria", sedangkan dalam Webster Third International Dictionary The English Language (1986: 837), feminisme adalah teori tentang persamaan antara laki-laki dan perempuan dibidang politik, ekonome, dan social, atau kegiatan terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan kaum wanita. (Suroso dkk. Kritik Sastra, teori, metodologo dan aplikasi, 2009:54)
Dalam cerpen ini nilai-nilai feminisme lebih dipresentasikan bagaiman sikap dan sifat seorang wanita seharusnya, bukan mengarah pada sebah gerakan wanita dalam mengupayakan kestraan hak-haknya atas kau pria. Hal ini menjadi sebuah kajian yang menarik karena menyajikan wacana yang berbeda denga ideology feminis secara umum, namun hal ini juga semakin menguatkan nilai-nilai feminis yang hendak disampaikan oleh pengarang.
Gerakan feminisme pada awalnya muncul didunia barat, khususnya Amerika Serikat, karena disana wanita dipandang lebih rendah dari kaum laki-laki baik dari segi politik, social maupu kodratnya. Kondisi ini kemudian menjalar keberbagai belahan dunia. Banyak gerakan-gerakan wanita dengan ideology feminisnya mewarnai percaturan dunia. Gerakan ini mengklaim dirinya sebagai oknom yang tertindas oleh system social yang ada. Bahkan bangsa Indonesia yang sudah nyata mempuyai system social yang berbeda dengan system social dunia barat ikut terjangkit ideology feminis semacam ini, maka hal ini yang hendak disampaikan oleh pengarang , bahwa system social kita berbeda dengan system social dunia barat sehingga nilai-nilai feminisme juga haru dipahami dengan arti yang berbeda pila.
Sistem social bangsa kita adalah system social yang kental dengan nilai-nilai agama khususnya Islam sebagai agama terbasar di indnesia. Islam tidak pernah memandamng rendah kaum wanita, namun sebaliknya, wanita diposisiskan sebagai insane mulia terbukti dengan adanya sabda Nabi, bahwa "surga ada ditelapak kaki Ibu (wanita)",
Dalam ranah social perbedaan antara wanita dan pria dipahamisebagai pembagian tugas,. Pria yang secara psikologis dikaruniai kekuatan fisik bertugas untuk menghidupi dan melindungi, sedangkan wanita dengan kelembutannya bertugas menyayangi dan mengayomi generasi penerusnya (anak-anaknya).
Dalam prjalanannya, system social ini semakin kabur, system social barat mulai merasuki system social bangsa Indonisia yang memiliki system social ketimuran. Perubahan ini terjadi disemua lini lapisan masyarakat, terutama kaum remaja, termasuk kalangan akademisi (yang berpendidikan), lebih-lebih yang tidak. Fenomena ini menjadi gambling disajikan oleh pengarang dalam cerpen ini, dengan menjadikan Kampus (lingkungan akademis) sebagai latar dalam cerpen ini. Ternyata pada saat ini sangat jarang menemukan wanita yang konsisten(istikomah) memakai jilbab, hanya Anisandia tokoh imajinasi yang diinsankan oleh tokoh "Aku".
Kata jilbab menjadi sangat penting dalam cerpen ini, sebagai media untuk menyampaikan gagasan pengarang mengenai wanita. Dalam Islam, jilbab merupakan symbol kesadaran ketaatan kepada hokum-hukum syara' sebagai seorang muslimah. Jadi, pengarang hendak mendeskripsikan bahwa wanita yang baik dimata social adalah wanita yang bersikap sesuai dengan tuntunan syari'at Islam, yakni wanita yang senantiasa menjaga kehormatannya, memelihara kesuciannya, dan melindungi diri dan imannya dengan busana yang sempurna.
Dalam cerpen ini, jilbab juga digambarkan sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan. Hal ini menjadi suatu keajaiban, karena tokoh "Aku" menjadi sangat terobsesi untuk bias berjumpa dengan Anisandia, wanita berjilbab yang selalu mengisi ruang imajinasinya, bahkan mampu merubah sikap dan pola pikirnya, yang pada awalnya Ia tidak mengenal cinta dan tidak ingin bercinta , sampai cinta itu tumbuh walau masih sebagai sesuatu yang asing, namun saat cintanya bersemi Ia tahu bahwa Anisandia tidak akan pernah ada untuk dirinya. Ternyata Ia hanya dipermainkan oleh sahabatnya sendiri , namun sama sekali hal itu tidak menyisakan luka. Tokoh "aku" benar-benar berubah dan tmpil sebagai sosok dewasa yang berjiwa tegar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar